Senin, 25 September 2017

HUTAN BAMBU di Taman Tua

Pada hari ke 8 di Jepang atau hari ke 2 di Kyoto saya memutuskan untuk berkunjung ke Arashiyama Bamboo Forest. Secara lokasi jika dihitung dari rumah penginapan kita Arashiyama bisa dibilang relatif agak jauh dimana berjarak sekitar satu jam apabila kita menempuh menggunakan bus umum. Belum lagi apabila saat akan menuju kesana kita salah mengambil bus seperti yang kita alami.
Berhubung kita merupakan turis baru kita mempasrahkan diri pada gmaps untuk memperoleh tarsnportasi tercepat dan ekonomis. Dari keterangaan gmaps kita disarankan untuk mengambil bus no.93 untuk menuju Arashiyama. Seteah naik sekitar 15 menit kita baru sadar bahwa bus yang kita tumpangi menuju ke arah sebaliknya, ternyata bus tersebut merupakan bus no.93 yang berasal DARI Arashiyama bukan MENUJU Arashiyama. Akibatnya kita memutar lagi dengan bus lain dan menggunakan bus no.93 lagi yang benar MENUJU Arashiyama. Efeknya akibat salah menggunakan bus ini waktu yang terbuang lumayan banyak, mungkin sekitar 1,5 jam terhitung termasuk menunggu bus-bus tersebut.

Istri saya sendiri Pipit Uky sebelumnya sudah pernah mengunjungi Arashiyama, yaitu saat ada trip dari kampus bersama teman-teman kuliahnya sekitar satu tahun lalu. Menurut info-info yang ada 'Garden' atau taman yang ada di Arashiyama merupakan salah satu taman tertua yang ada di Jepang.
Saat memasuki Arashiyama sendiri kita dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu:
1. Garden Only
2. Tenryuji Temple Only
3. Both of them.
Dan atas rekomendasi istri kita memilih untuk mengambil paket Garden Only dengan wajib membayar tiket masuk sebesar 500¥.

Saat awal-awal masuk Arashiyama Garden kita juga dapat melihat Tenryuji Temple namun hanya dari luar. Secara umum Arashiyama Garden isinya literally Garden atau taman dimana sepanjang perjalanan terdapat banyak dedaunan dan pohon yang sangat hijau. Sebenarnya akan lebih bagus lagi apabila datang ke tempat ini saat Autumn atau musim gugur dimana daun-daun Momiji yang terdapat di Arashiyama akan memerah dengan indah. Bagi traveler yang tidak terlalu suka dengan nuansa alam hijau maka tempat ini terkesan akan cukup membosankan. Namun bagi traveler yang suka dengan suasana alam yang tenang maka tempat ini sangat saya rekomendasikan, apalagi dibungkus dengan nuansa Jepang kuno yang masih cukup kental.

Bagian yang paling terkenal dari tempat ini adalah adanya hutan bambu yang sangat terawat. Bambu sendiri memiliki banyak jenis. Tidak seperti bambu-bambu di Pulau Jawa Indonesia, bambu-bambu di hutan bambu Arashiyama berukuran relatif sangat besar dan tinggi. Dan yang membuat agak berbeda dengan bambu-bambu lainnya adalah warnanya yang hijau meskipun sudah berumur sangat tua. Dengan tatanan lokasi, bambu, jalan setapak, pagar tanaman, dan gemericik air sungai maka tempat ini sangatlah 'so natural' dan tenang. 
Inti dari hutan bambu ini adalah adanya jalan setapak lebar yang diapit bambu-bambu besar hijau disisi kanan dan kiri. Bambu-bambu itu seakan-akan tertata rapi dimana dengan jalan setapak tersebut dibatasi oleh pagar yang dibentuk dari batang bambu dan pohon tua. Apabila kita foto dengan latar gang besar ini maka akan terlihat foto yang menurut saya akan sulit kita temui ditempat lain dan tentunya sangat 'instagramabel' klo kata netizen jaman sekarang. Untuk dapat berfoto dengan latar yang kosong agak cukup susah karena tempat ini ramai dikunjungi turis sehingga kita harus bersabar untuk dapat foto saat 'gang' sudah cukup sepi.

Selain adanya hutan bambu di Arashiyama juga terdapat danau besar yang patutnya sayang untuk dilewatkan. Di danau yang sangat bersih ini terdapat banyak perahu-perahu yang dapat disewa pengunjung untuk mengisi waktu disana. Dari perahu kecil yang dapat diisi dua orang dengan sepasang dayung, perahu kayu besar yang dapat diisi banyak muatan, sampai perahu dengan tenaga mesin yang tentunya dapat melaju di air dengan kecepatan cukup tinggi. Saya sendiri dan istri memilih untuk mengisi waktu dengan berfoto-foto di tepi danau saja. 

Sebenarnya selain hutan bambu dan danau besar tersebut terdapat juga spot-spot menarik yang dapat dikunjungi. Salah satunya kata istri saya terdapat juga kereta tua unik yang dapat dicoba pengunjung untuk berkeliling di taman Arashiyama, namun sayangnya kita akan diminta untuk membeli tiket khusus lagi untuk dapat menaiki kereta tersebut. Kita sendiri agaknya sudah cukup puas untuk berkeliling Arashiyama, selain karena waktu yang sudah sore juga tenaga yang cukup terkuras. Saat kita menuju jalan besar untuk keluar dari kawasan Arashiyama juga terdapat banyak toko souvenir dan tempat makan khas Jepang yang patut di coba.

BLOG INVASION from Husband

Kyoto, Japan, 25 September 2017

Haloo, perkenalkan saya Derie Camara. Mulai detik ini saya akan mulai menginvasi blog istri saya Pipit Uky. Oia, sebelumnya kami telah melangsungkan pernikahan pada 4 September 2017 di Tuban, Jawa Timur. Me

Sebenernya saya sebelumnya telah memiliki blog sendiri. Namun karena ada salah penanganan email saya kena spam yang sulit dihilangkan dan efeknya otomatis mengenai blog saya. Selain itu juga karena emang belum sempat untuk menulis blog lagi hehe

Hari ini sendiri merupakan hari ke 8 saya dan istri berada di Jepang. Jepang sendiri merupakan negara kedua yang pernah saya kunjungi dalam lawatan ke luar negeri. Negara pertamanya adalah Hongkong, meskipun statusnya saat itu hanyalah sebatas transit dalam rangka menuju Jepang hehe. Saya sendiri sebelumnya telah berkunjung ke Jepang dalam rangka mengunjungi mantan istri saya (baca: masih pacaran).

Sebagai orang yang belum banyak berkunjung ke negeri orang, menurut saya Kyoto merupakan kota yang cukup unik. Apabila dibandingkan Tokyo, Kyoto bukanlah kota yang semetroplitan ibukota negara tersebut. Secara umum Kyoto tidaklah 'secanggih' Tokyo ataupun Yokohama. Secara kepadatan penduduk Kyoto relatif tidak terlalu padat, masih ada beberapa sisi kota yang terlihat masih 'desa' dengan bangunan gedung dan apartemen yang tidak terlalu banyak. Namun jangan salah, meskipun begitu Kyoto adalah salah satu kota dengan jumlah turis yang sangat banyak dibandingkan dengan kota-kota lain di Jepang. Menurut saya apabila dibandingkan dengan Tokyo dan Yokohama, persebaran turis di Kyoto lebih mengelompok di beberapa sisi. Berbeda dengan Tokyo dan Yokohama yang memiliki banyak turis juga namun relatif lebih menyebar, belum lagi jumlah warga lokal yang sangat padat, sehingga turis disana terkesan agak samar. Sehingga jangan heran apabila kalian berkunjung ke Kyoto maka saat kalian membeli barang keperluan sehari-hari maka harganya relatif sedikit lebih mahal.

Sebagai turis baru, Kyoto memang saya anggap sebagai kota yang berbeda dibanding kota lain di Jepang. Salah satau yang berbeda lagi menurut saya dari segi transportasi. Dari sisi seorang turis baru seperti saya kota Kyoto tidak memiki stasiun kereta (Eki) sebanyak kota Tokyo yang menghubungkan titik-titik strategis kota, terutama tempat wisata. Maka dari itu bagi wisatawan saat berkunjung ke Kyoto maka akan lebih mudah untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dengan menggunakan bus.
Dengan menggunakan bus ada satu keuntungan yang bisa kita peroleh yaitu akan relatif lebih hemat, terutama apabila kita ingin banyak mengililingi kota dalam satu hari. Di Kyoto sistem pembayaran busnya dibayar diakhir, jadi mau seberapa jauh kita berpindah maka uang yang kita bayarkan akan tetap sama. Dalam sekali perpindahan uang yang harus kita bayarkan sebesar 230¥. Namun jangan kuatir terdapat one-day-pass-ticket dimana dengan membeli satu tiket khusus sebesar 500¥ kita sudah bisa menggunakan bus berpindah kemanapun tanpa harus membayar lagi. Itulah mengapa saya bilang menjadi suatu keuntungan sendiri apabila kita menggunakan bus di Kyoto.


Selasa, 03 Januari 2017

HATCHi(ハッチ) THE SHARE HOTELS


Gateway ke Kanazawa dalam rangka mengisi winter break beberapa hari lalu cukup singkat, namun mengesankan. Saya akhirnya bisa melihat sudut lain negara Jepang selain Tokyo dan Kyoto.
Kanazawa merupakan kota tua yang pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum Tokyo. Kota yang kecil namun cantik ini penuh sudut-sudut yang bisa dinikmati setiap saat.

Kami memutuskan untuk berlibur selama dua hari satu malam dan menginap di HATCHi THE SHARE HOTELS. Dua alasan yang krusial adalah lokasi yang strategis dan harga yang bersahabat. HATCHi THE SHARE HOTELS terletak di dekat Higashi-chaya, sekitar 1 menit jalan kaki. Selain itu ada dua halte bus juga yang dapat dijangkau dengan beberapa langkah dari hotel.
Dengan harga 6900 JPY untuk tiga orang, hotel ini cukup worth it untuk ukuran kota wisata seperti Kanazawa.

Saat pertama kali datang, kami sempat bingung karena saat kami melihat tulisan HATCHi, kami justru menemui kafe dibanding hotel. Kami mencoba masuk, dan terlihat sebuah meja di dekat pintu  yang kami curigai sebagai tempat resepsionis.
Seolah mengetahui kebingungan kami, seorang laki-laki muda-yang akhirnya kami tahu bahwa dia adalah resepsionis hotel- memanggil dan langsung bertanya "mau check in?", kami langsung mengangguk cepat.
Lantai 1 memang digunakan untuk kafe, sedangkan hotelnya berada di lantai 2 dan 3.


Saat menginap di sini, saya jujur tidak berharap banyak, asal bisa tidur nyenyak dan tidak kedinginan saja sudah cukup, mengingat harganya juga yang cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa. Ternyata, saya salah!
Hotel ini, meskipun share hotel dan ukurannya tidak terlalu luas (seperti hotel di Jepang ada umumnya, namun ini lebih sempit), desain interiornya patut diacungi jempol. Konsepnya yang urban, modern, dan minimalis membuat saya tak berhenti berdecak kagum dan lupa kalau ini adalah hotel share.

Kamar kami berada di lantai 2 dengan kamar mandi terpisah. Saya lagi-lagi terpesona dengan desain kamar mandinya, minimalis tapi cantik.
Sayang, saya hanya sempat memfoto wastafelnya instead of kamar mandinya. Semoga bisa menggambarkan overallnya.



Saat sarapan kami menuju dapur di lantai basement, saya pun lagi-lagi kagum dengan desainnya dan peralatan masaknya sangat lengkap. Mulai dari kulkas, sendok, rice cooker, bahkan microwave.

Sepertinya hotel ini benar-benar ditujukan untuk kaum muda yang suka berpetualang.

Reccommended?

Saya harus mengakui bahwa kamarnya tidak terlalu luas dan ruang gerak menjadi terbatas. Namun, bagi yang menyukai hal-hal baru dan budget terbatas, saya merekomendasikan hotel ini jika berkunjung ke Kanazawa. Semoga bisa memberi gambaran dan referensi baru :)

Sabtu, 31 Desember 2016

SETIAP HATI, SETIAP PAGI


Setiap hati adalah cermin bagi pemiliknya

Tersebab jernih dan buram adalah bayangan diri

Bersih maupun suram sebagaimana kata hati



Setiap pagi laksana lembaran baru

yang bisa kau temukan ketika kau bangun atau mungkin tatkala ingin kau hapus hari yang lalu

Karena tak ada yang lebih jauh dari masa lalu


Tiada yang paling ditunggu

kecuali kesempatan yang terselamatkan

dan hati yang berani menyadari

atas pecahan-pecahan kesempatan yang terlewatkan

***



Sabtu, 17 Desember 2016

OHAYOU, KYOTO!



Kyoto

If you have noticed, I have been several times visiting Kyoto. Most of the reason are for project meeting. It happens that our collaborator is professor in Kyoto University, so in the end of semester I will visit Kyoto with my professor to explain the progress of the project itself. 
The meeting itself start from the afternoon and finish at the night. Afterwards, we hold a dinner in a fancy restaurant. At this time, I always give excuse to my professor to not join the dinner, since I am not sure about the restaurant they picked suitable for muslim or not. So I prefer to commuting for 30 minutes to get muslim friendly restaurant in Kyoto.







Fortunately, Professor always give the free time for student on the second day. Since we will go back to Tokyo in the afternoon, I always in hurry when I visiting good place in Kyoto. I mean that I only took several photos and change the destination place soon after. But, I always enjoy when I was in Kyoto. Like the old and kind city and make the visitor want to comes again.








See you on January, Kyoto! 







autumn bliss


During a fine afternoon Sunday couple weeks ago, I headed to the place near Saginuma station to enjoy autumn stroll. This place is quite and perfect to enjoy autumn rather than popular garden in Tokyo, since it is become very crowded especially on weekend. I just found this to be a perfect place to stroll and wander the things in the whole afternoon by myself.

By the way, this year be my second autumn in Tokyo, it means I have been living in this city since a year ago. Still, I can't not to pay attention whenever autumn comes. I love anything about it, whether it is about the color tone, fashion, and the weather itself, I really like. In the morning, mild wind blows slowly and fly part of hazel leaves. Beautiful.

I continue stroll along and meet children playing around with their father and a group of old women waiting for the bus. After stop in some spot to mesmerized things around, I am waiting the bus to go home.







Sabtu, 10 Desember 2016

5 things you should try in tokyo

Tokyo merupakan salah satu kota yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang. Baik dari sisi metropolis maupun kebudayaannya selalu ada hal yang bisa kita eksplor. Jika kamu memiliki rencana traveling ke Jepang, coba sempatkan untuk melakukan hal-hal berikut.

Menginap di ryokan

Ryokan adalah hotel tradisional khas Jepang. Saat menginap di ryokan, kita bisa merasakan tinggal rumah Jepang dengan segala kebiasaannya. Misalnya tidur di atas futon instead of bed. Futon adalah alas tidur seperti matras tebal yang bisa dilipat dan disimpan. Hal ini dilakukan untuk menyiasati karena umumnya rumah orang Jepang tidak terlalu luas. Namun, ryokan yang mahal konon sudah menggabungkan futon dengan bed sehingga lebih mewah.
Selain itu, di ryokan umumnya menyediakan yukata yang bisa kita pakai untuk tidur, tak ketinggalan slipper yang bisa kamu gunakan dan ocha yang bisa kamu nikmati di dalam kamar. Terdengar nyaman bukan?

Ryokan, hotel tradisional Jepang

Berendam di onsen

Onsen merupakan hot spring ala Jepang. Setelah beraktivitas seharian, berendam di onsen adalah salah satu cara untuk melepas penat. Jangan khawatir, bila kamu menginap di ryokan umumnya mereka punya onsen umum yang bisa kita manfaatkan. Orang Jepang sangat concern masalah kebersihan. Untuk itu sebelum berendam ke onsen, mereka membersihkan badan atau mandi terlebih dahulu, jadi masuk ke onsen sudah dalam keadaan bersih. Tertarik mencoba?

Onsen, pemandian air panas khas Jepang

Memakai kimono ala gadis Jepang

Siapa yang tak tahu kimono. Baju tradisional Jepang yang sering dipakai oleh perempuan Jepang ketika menghadiri suatu acara seperti festival atau pernikahan itu menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang. Motif dan warnanya yang indah membuat orang yang memakainya terlihat lebih cantik. Jadi, jangan lewatkan kesempatan ini ya saat kamu berkunjung ke Tokyo. Kamu bisa memakainya sambil berjalan-jalan di tempat wisata, lho. Tempat penyewaannya pun banyak dan mudah ditemukan dengan harga sewa sekitar 3500 JPY.

Menyeberang di Shibuya crosswalk

Kamu belum pernah ke Shibuya kalau kamu belum merasakan menyeberang bersama ratusan orang di Shibuya crosswalk :p. Sebetulnya crosswalk di Shibuya ini terdiri dari 5 zebra cross di yang memungkinkan kita menyeberang ke segala arah, jadi kalau traffic light hijau, ratusan orang akan menyeberang dalam waktu yang bersamaan. Ada sensasi tersendiri lho bergabung dan melihat begitu banyak orang berlalu lalang dari satu titik ke tempat lain.

Kalau boleh saya bilang, di Shibuya kita bisa melihat representasi mode orang Jepang. Rata-rata mereka selalu well-dressed dari ujung rambut ke ujung kuku :D.

Join the crowd di Takeshita street, Harajuku

Yang tak kalah ramai dari Shibuya adalah Takeshita street di Harajuku. Sebetulnya takeshita street adalah jalan biasa seperti gang, namun banyak anak muda yang berpakaian ala Harajuku style berlalu lalang disitu. Ditambah lagi toko pernak pernik yang memanjakan mata di sepanjang jalan membuat takeshita street terkenal di kalangan wisatawan. Yaaa, bolehlah mencoba berjalan dari ujung ke ujung di Takeshita street sambil menikmati es krim ata waffle yang banyak dijual di daerah tersebut.


Itulah 5 hal yang bisa kamu lakukan di Tokyo. Saranku, jangan terburu-buru mengunjungi banyak tempat, namun sempatkan untuk berbaur dengan budaya dan orang lokal agar kamu lebih mengenal Jepang. 

Semoga bisa menjadi inspirasi buat kamu yang ingin pergi ke Tokyo. 

[to be continue...]






Selasa, 29 November 2016

AOYAMA FLOWER MARKET TEA HOUSE

Sebetulnya saya dan Hylda sudah lama janjian pengen ke ngobrol-ngobrol cantik. Kata Hylda, kebetulan di dekat rumahnya ada tempat yang enak buat ketemu, Aoyama Flower Market Tea House. Setahu saya, Aoyama Flower Market itu toko bunga segar yang memang cukup terkenal. Saya baru tahu kalau mereka juga membuka lini bisnis cafe.



Kami janjian di Omotesando eki (stasiun) karena lokasi Aoyama Flower Market Tea House dekat sekali dengan pintu keluar stasiun. Sekitar 5 menit jalan kaki, kita sudah bisa menemukan tempatnya. Lagipula, Aoyama Flower Market Tea House ini terletak persis di dekat jalan raya, papan tulisannya pun terlihat besar dan jelas jadi tidak perlu khawatir tersesat.

FYI, lokasi Aoyama Flower Market Tea House jadi satu dengan toko bunganya yaitu Aoyama Flower Market. Dari luar memang terlihat seperti toko bunga biasa dan tidak terlihat tanda-tanda cafe atau tempat makan. Tapi, kalau kita masuk sedikit ke dalam toko bunganya, ada tempat ngobrol cantik yang cukup luas di belakang.

Waktu itu kami datang sekitar jam 4 sore dan pengunjung yang datang lumayan banyak. Demi makan cantik di Aoyama Flower Market Tea House dan udah datang jauh-jauh ke Omotesando, jangankan ngantre 30 menit, ngantre 1 jam juga rela kok kami lakukan hehehe. Setelah 30 menit berlalu seorang pegawai memanggil nama kami dan yeaaay akhirnya tiba giliran kami. Kami pun masuk dengan di antar oleh pegawainya.




Seperti yang sudah saya bilang di atas, literally kita ngobrol dan ngeteh cantik di toko bunga. Di kanan-kiri-atas-bawah semuanya ada bunga. Alhasil, tempatnya terkesan romantis banget, apalagi tempat duduk di sini sengaja di set up untuk berdua-dua. Pas banget kaya nya untuk kencan berdua dengan pacar atau ngobrol dengan sahabat.

Kalau kesini, jangan lupa memesan menu andalan mereka. Menu andalan di sini adalah teh nya. Juara menurut saya. Rasanya fresh dan menenangkan terutama menu yang kami pesan yaitu Teh Bora-Bora yang Fruit. Rasa asam manis dari buah seakan menetralisir rasa pahit dari teh itu sendiri jadi paduan yang pas.

Untuk teman ngeteh, ada beberapa pilihan snack yang tak hanya enak tapi juga cantik, seperti French Toast with Roast Apple yang saya pesan waktu itu.





Gimana? Penasaran dengan tempat ini dan pengen nyobain ngeteh cantik dikelilingi bunga-bunga?